Antara Piramid Dan Ruang Kosmos

Dimanakah kita berada sekarang? Apakah pada suatu hari nanti manusia akan menguasai ruang angkasa? Apakah makhluk hidup dari daerah kosmos yang tak ada batasnya ini pernah ada yang berkunjung ke bumi, jauh di masa silam? Apakah ada inteligensia yang tak dikenal di suatu tempat di alam semesta ini yang sedang mencoba mencari hubungan dengan kita? Apakah zaman kita ini, dengan segala penemuannya yang membawa masa depan yang menggemparkan itu benar-benar mengerikan ?

Berdasarkan pengetahuan yang kita peroleh dari para ahli tentang Mesir, Mesir purbakala muncul di depa kita secara mendadak, lengkap dengan peradabannya yang sudah siap tanpa masa transisi. Kota-kota besar dengan kuil besar-besar, patung-patung raksasa yang gagah perkasa, jalan-jalan indah diapit oleh arca-arca besar, sistem pengeringan yang sempurna, pusara-pusara mewah yang dipahat dari batu karang, piramidapiramida raksasa dan lain-lain yang aneh; seolah olah muncul begitu saja dari dalam tanah; merupakan keajaiban asli yang sekonyong-konyong telah mencapai puncaknya tanpa diketahui sejarahnya.

Tanah pertanian yang subur hanya terdapat di Delta Nil dan pada tepi kanan kiri sungai itu, yang menurut taksiran para akhli jumlah penduduknya pada waktu piramida besar sedang didirikan adalah sekitar 50.000.000. orang. Suatu jumlah yang secara menyolok kontradiksi dengan jumlah penduduk dunia pada tahun 3000 sebelum masehi, yang ditaksir hanya 20.000.000 orang. Dalam penaksiran yang begitu besar, selisih satu atau dua juta, kurang atau lebih tidak menjadi soal. Tetapi satu hal yang sudah jelas, mereka harus diberi makan. Di sana bukan hanya terdapat rombongan pekerja konstruksi, tukang batu, akhli teknik, dan pelaut; bukan hanya ratusan ribu budak belian, melainkan juga tentara yang bersenjata lengkap, sejumlah pendeta yang disanjung-sanjung, para pedagang, petani, dan pegawai sipil; dan tidak kalah pentingnya dengan yang lain, ialah kehidupan mewah dari Firaun beserta ke luarganya. Dapatkah mereka hidup dari hasil pertanian yang hanya sedikit dari Delta Nil itu?

Seharusnya orang mengatakan.kepada saya, bahwa balok-balok batu yang diperlukan untuk membangun kuil itu didatangkan ke sana dengan jalan mendorongnya di atas gelondongan kayu. Tetapi orang-orang Mesir tak akan pernah menebangi pohon yang jumlahnva hanya sedikit itu, untuk dijadikan kayu gelondongan. Karena pohon-pohon di sana umumnya adalah pohon korma yang buahnya diperlukan untuk pangan, sedangkan pohon dan daunnya adalah satu-satunya peneduh untuk melindungi tanah dari kekeringan. Tetapi dari pernyataan di atas tentu mereka harus pernah memiliki kayu gelondongan, sebab jika tidak maka tidak akan didapat penjelasan teknik sekalipun yang selemahlemahnya tentang pembangunan piramida-piramida itu.

Apakah kayu untuk keperluan itu diimpornya? Untuk mengimpor kayu diperlukan armada kapal pengangkut yang cukup besar. Setelah kayu itu dibongkar di pelabuhan Alexandria, masih perlu diangkut lagi melalui sungai Nil ke Kairo. Oleh karena Mesir pada waktu membangun piramida besar tidak mempunyai kuda dan gerobak, maka tak ada kemungkinan lain. Gerobak dan kuda tak dikenal orang di Mesir sampai dinasti ke tujuh belas kira-kira tahun 1600 sebelum masehi. Jadi masalahnya sekarang ialah penjelasan yang meyakinkan tentang pengangkutan balok batu itu. Para sarjana tentu akan mengatakan bahwa gelondongangelondongan kayu memang dibutuhkan.

Banyak sekali persoalan yang ada hubungannya dengan teknologi pembangunan piramida itu, tetapi penyelesaiannya belum ada yang tepat. Bagaimana caranya orang-orang Mesir memahat pusara dari batu karang? Sumber dan dana apakah yang mereka miliki untuk membangun gedung gedung kesenian dan ruangan-ruangan besar ?

Dindingnya licin-licin dan hampir semuanya dihiasi dengan gambar-gambar relief. Lubang lubang terowongan melandai ke bawah menuju lantai yang berbatu karang. Mereka telah membuat anak tangga menuju ke kamar mayat jauh di bawah, dengan seni yang paling tinggi. Para wisatawan mengaguminya, tetapi tiada seorangpun di antara mereka yang mendapatkan penjelasan tentang cara penggaliannya. Namun dapat dipastikan bahwa orang-orang Mesir itu sejak dahulu kala adalah akhli dalam pembuatan terowongan, karena pusara-pusara yang dipahat dari satu balok karang yang dibuatnya sebelumnya persis sama dengan yang paling akhir. Tidak ada beda antara pusara Tety dari dinasti keenam dengan pusara Ramses I dari Kerajaan Baru, sekalipun terdapat tenggang waktu sedikit-dikitnya 1000 tahun di antara kedua pembuatannya. Jelas sekali bahwa orang orang Mesir tidak memerlukan sesuatu yang baru terhadap teknik lama mereka. Bangunan-bangunan yang lebih baru, sebenarnya merupakan jiplakan yang kurang sempurna dari modelmodel terdahulu.

Wisatawan yang mengunjungi piramida Cheops di sebelah barat Kairo dengan naik unta yang biasanya dipanggil Wellington atau Napoleon, akan diliputi perasaan aneh, seperti perasaan yang biasanya ditimbulkan oleh peninggalan masa silam yang misterius. Penunjuk jalan akan mengatakan bahwa seorang Firaun telah membuat pekuburan di sini. Setelah memotret beberapa obyek, si wisatawan pulang dengan membawa sedikit keterangan ilmiah itu. Piramida Cheops ini telah menginspirasikan beratusratus teori yang lemah dan gila. Dalam buku “Pusaka kita dalam Piramida Besar” karya Charles Piazzi Smith, berisi 600 halaman, diterbitkan dalam tahun 1864; kita dapat membaca banyak hubungan antara piramida dan bumi kita, yang memerindingkan bulu roma. Namun demikian, kalau diselidiki secara kritis, buku itu masih mengandung faktafakta yang memancing celaan.

Sudah diketahui umum bahwa orang-orang Mesir purbakala menganut agama matahari. Dewa Matahari mereka “Ra,” menjelajahi langit dengan kendaraan yang mengeluarkan letusan-letusan api. Naskah-naskah tentang piramida dari kerajaan kuno pun melukiskan wisatawisata sorga yang dilakukan oleh raja, yang sebenarnya dengan bantuan para dewa dan kapal mereka. Jadi para dewa dan para raja di Mesir semuanya telah terlibat dalam penerbangan.

Apakah benar-benar hanya kebetulan saja bahwa bila tinggi piramida Cheops diperbanyak dengan seribu juta, akan menjadi 98.000.000 mil kira-kira sesuai dengan jarak antara matahari dan bumi ? Apakah kebetulan juga, bahwa garis meridian yang melalui piramida-piramida membagi benua dan samudera menjadi dua bagian yang sama? Apakah kebetulan juga, bahwa luas bidang dasar piramida itu bila dibagi oleh dua kali tinggi, hasil baginya adalah r = 3.14159 yang sangat terkenal itu? Apakah kebetulan juga, bahwa mereka dapat menemukan cara menghitung berat bumi?

Apakah kebetulan juga bahwa tanah yang berbatu-batu di mana bangunan itu berdiri telah diratakan secara cermat sekali ?

Tidak ada sedikitpun petunjuk untuk menjelaskan mengapa orang-orang yang membangun piramida Cheops dan Firaun Khufu, yang justru memilih tanah padang pasir yang terjal berbatu batu untuk tempat bangunan itu. Adalah masuk akal kalau Firaun Khufu menggunakan celah alamiah yang terdapat dalam batu karang untuk bangunan raksasanya. Keterangan lain walaupun lemah, menyebut bahwa ia ingin mengawasi jalan nya pekerjaan dari istana musim panasnya. Kedua alasan itu bertentangan dengan pikiran sehat. Dalam hal pertama; apakah tidak lebih praktis kalau tempat bangunan itu lebih dekat kepada tambang di sebelah Timur, untuk memperpendek jarak transport bahan ? Dalam hal kedua, adalah mustahil kalau Firaun mau diganggu oleh hiruk pikuk pekerjaan pembangunan piramida, setiap hari. Oleh karena banyak kritik yang perlu dikemukakan terhadap buku-buku keterangan tentang pemilihan tempat bangunan itu, maka beralasanlah kiranya kalau dipertanyakan; apakah para “dewa” tidak turut menentukannya, sekali pun hanya lewat kependetaan ? Tetapi kalau penjelasan itu diterima, maka ada lagi satu pembuk tian yang penting terhadap teori saya tentang masa silam utopi dari umat manusia.

Karena piramida itu tidak hanya membagi benua-benua dan samudera-samudera menjadi dua bagian yang sama, melainkan juga letaknya yang tepat di pusat gratifikasi benua-benua. Kalau kenyataan di atas bukan kebetulan dan memang agaknya sulit untuk percaya bahwa itu kebetulan saja, maka lokasi bangunan itu pasti telah dipilih oleh makhluk-makhluk yang mengetahui benar bentuk bulat dari bumi ini serta bentangan benua dan samudera di atasnya. Jadi semuanya itu bukanlah kebetulan atau harus di anggap dongeng bohong belaka.

Dengan kekuatan apa, dengan “mesin-mesin” apa dan dengan teknik apa lapangan batu terjal itu diratakannya? Bagaimana caranya para akhli teknik bangunan itu membuat terowongan ke bawah menembus batu karang itu? Dan bagaimana cara meneranginya ? Baik di sini maupun di pusara pusara para raja di lembah-lembah, yang dipahat dalam balok batu karang, tidak ada tanda-tanda bahwa di situ pernah digunakan obor atau sebangsanya. Tidak ada langit-langit atau dinding yang hitam atau bekas membersihkan jelaga hitam.

Bagaimana dan dengan alat apakah balok batu itu dipotong dan dikeluarkan dari tambangnya? Bagaimana menajamkan pinggirannya dan menghaluskan sisi-sisinya? Bagaimana mengangkutnya dari tambang ke tempat pekerjaan dan bagaimana menyambungkannya satu sama lain sampai seteliti seperseribu inci?

Sekali lagi orang dapat memilih penjelasan di antara: dataran miring dan rata di mana balok-balok batu didorong, perancah dan jalur-jalur landai. Dan tentu saja tenaga kerja yang terdiri dari ratusan ribu budak belian, petani, akhli bangunan, dan pengrajin. Tiada satupun dari keterangan-keterangan ini yang tahan terhadap penelitian-penelitian kritis. Piramida besar sampai sekarang masih merupakan bukti nyata dari suatu teknik yang tak pernah dapat dipahami. Sekarang dalam abad kedua puluh ini, tiada seorang arsitekpun yang dapat menjiplak piramida Cheops itu, sekalipun disediakan bahan dan dana dari segenap benua. 2.600.000 potong balok raksasa telah dipotong dan ditambang, dihias, diangkut dan dipasang di tempat lokasi bangunan seteliti satu perseribu bagian dari satu inci. Dan jauh di bawah di dalam ruang-ruang, semua dindingnya digambari dengan cat berwarna.

Lokasi dari piramida itu adalah hasil ulah dari Firaun. Ukuran “klasik”nya yang tak tertandingi itu bagi para pendirinya hanyalah secara kebetulan saja. Beberapa ratus ribu pekerja mendorong dan menghela balok batu yang masing-masing seberat dua belas ton lebih ke atas jalur landai dengan tali yang tak pernah ada di atas gelondongan-gelondongan kayu yang tak pernah ada. Kelompok pekerja ini hidup dengan makan gandum tak juga pernah ada. Mereka tidur dalam kemah kemah yang tak pernah ada yang dibangun di luar halaman istana musim panas Firaun. Para pekerja itu dikomando dengan aba-aba “Holopis kuntul baris” melalui pengeras suara yang tak pernah ada, maka dengan demikian balok batu itu serentak didorong ke atas.

Dan jika para pekerja yang rajin itu setiap hari mencapai jatah pekerjaan hariannya yang luar biasa itu, yakni sepuluh balok ditumpuk satu di atas yang lainnya; maka untuk memasang 2.600. 000 balok batu menjadi suatu piramida yang megah itu memerlukan waktu 260.000 hari atau 664 tahun. Ya, dan jangan lupa pula, bahwa semua itu terjadi sebagai hasil dari ulah seorang raja sinting yang tak pernah mengalami penyelesaian bangunan yang telah diilhamkan kepadanya.

Memang, tak perlu menganggap teori ini sebagai sesuatu yang menggelikan. Siapakah secara jujur percaya bahwa piramida itu tak lain dan tak bukan ialah pusara seorang raja? Siapakah yang sekarang menganggap bahwa penerusan simbol simbol matematika dan astronomi adalah suatu hal yang kebetulan belaka? Sekarang sudah disepakati umum, bahwa piramida besar itu dihubungkan kepada Firaun Khufu sebagai penerima ilhamnya dan sebagai pendirinya. Mengapa ? Karena semua prasastinya dan lembaran-lembaran sejarahnya dihubung-hubungkan kepadanya.

Bagi saya jelas nampaknya, bahwa piramida itu tidak dapat dibangun dalam satu masa hidup seseorang. Tetapi bagaimana kalau Khufu memaksa orang untuk membuat prasasti dan lembaran sejarah itu karena ingin termasyhur? Cara itu sangat populer di zaman purba; banyak bangunan menjadi saksi. Jika seorang diktator ingin supaya dirinya masyhur, ia memerintahkan supaya keinginannya itu terlaksana, kalau itu halnya maka piramida itu telah ada sebelum Khufu memperkenalkan diri.

Di Perpustakaan Bohlean di Oxford terdapat sebuah tulisan kuno di mana pengarang “Copti” bernama Mas-Udi menetapkan bahwa Raja Mesir yang bernama Surid-lah yang membangun piramida besar di Mesir itu. Cukup aneh, Surid ini memerintah Mesir sebelum banjir besar. Raja Surid yang bijaksana ini memerintahkan para pendeta, supaya menuliskan segala kearifan mereka, dan menyembunyikannya di dalam piramida. Jadi, kalau menurut hikayat Copti, piramida itu didirikan sebelum banjir besar. Herodatus dalam Buku II nya tentang “Sejarah “ memperkuat dugaan itu. Para pendeta dari Thebes telah menunjukkan kepadanya 341 buah patung raksasa, yang masing-masing berarti satu generasi kependetaan tinggi, sedang seluruhnya mencakup masa 11.340 tahun.

Sekarang kita mengetahui bahwa tiap pendeta tinggi telah dibuatkan patung baginya untuk selama masa kehidupannya. Herodatus juga mengatakan bahwa selama ia bertempat tinggal di Thebes setiap pendeta secara bergiliran menunjukkan patungnya masing-masing kepadanya sebagai bukti seorang putera selalu mengikuti jejak ayahnya. Para pendeta itu menjamin bahwa pernyataan mereka itu sangat cermat karena mereka telah mencatat segala sesuatunya untuk generasi-generasi mendatang. Mereka menerangkan pula bahwa tiap patung dari 341 buah patung itu mewakili satu generasi. Sebelum 341 generasi ini para dewa hidup bersama-sama manusia biasa, sedangkan setelah itu tidak ada seorang dewapun yang datang mengunjungi mereka dalam bentuk manusia.

Masa sejarah mesir ditaksir kirakira 6500 ta hun. Kalau begitu mengapa para pendeta itu tak malu-malunya mendustai wisatawan Herodatus dengan 11.340 tahun itu? Dan mengapa mereka itu dengan tegas menekankan bahwa tak ada dewa hidup di tengah-tengah mereka selama 341 generasi? Perincian ini tidak akan ada artinya sama sekali jika para “dewa” benar-benar tidak pernah hidup di antara mereka di zaman yang silam itu.

Kita hampir tidak mengetahui apa-apa tentang bagaimana, mengapa, dan bila piramida itu dibangun. Sebuah gunung buatan setinggi 490 kaki dengan berat 6.500.000 ton berdiri di sana sebagai bukti dari kehebatan yang dicapai pada waktu itu. Monumen ini diduga bukan apa-apa melainkan kuburan mewah dari seorang raja yang sangat royal. Setiap orang yang percaya kepada keterangan demikian boleh datang di sana.

Mummi-mummi yang juga tidak dapat mengerti dan belum dijelaskan dengan meyakinkan, menatap kita dari masa yang baru saja silam, seolah-olah mereka itu memegang beberapa rahasia ajaib.

Sebagian orang ada yang mengetahui teknik pembalseman mayat. Penemuan-penemuan arkeologis memperkuat dugaan bahwa makhluk purbakala percaya akan adanya kehidupan badaniah kedua di kemudian hari. Interpretasi demikian akan dapat diterima jika dalam falsafah agama dari kepurbakalaan terdapat bukti yang paling dekat dari kepercayaan akan kehidupan badaniah kedua. Jika nenek moyang kita yang masih primitif itu hanya percaya akan adanya kehidupan rohaniah kedua, maka mereka tidak akan begitu repot-repot mengenai kematian itu. Tetapi penemuan dalam pusara-pusara di Mesir memberikan contoh demi contoh dari pembalseman mayat sebagai persiapan untuk kehidupan badaniah yang kedua itu.

Apa yang dikatakan oleh bukti, apa yang di katakan oleh pembuktian terlihat dan tidak akan begitu menggelikan. Lukisan-lukisan dan hikayat hikayat sebenarnya menunjukkan bahwa para “dewa” berjanji akan datang kembali dari bintang bintang untuk membangunkan mayat-mayat yang dibalsem sesempurnasempurnanya, untuk memasuki kehidupan baru. Itu sebabnya maka ketentuan tentang pembalseman mayat dalam ruang-ruang penguburan dibuat sedemikian praktis, karena diperuntukkan bagi kehidupan di balik kubur ini. Jika tidak demikian, lalu apa kiranya yang telah mereka lakukan dengan uang, permata, dan segala benda lsesayangan mereka? Hal itu mereka lakukan karena bagi mereka itu bahkan di dalam pusaranya disediakan juga beberapa pelayan yang pasti telah dikubur hidup-hidup.Titik berat dari segala persiapan itu ialah kelanjutan kehidupan dalam kehidupan baru.

Pusara-pusara itu sangat tahan lama dan kokoh hampir tahan akan bom atom, dan dapat menahan keganasan alam sepanjang masa. Barang-barang berharga yang ditinggalkan di dalarnnya, seperti emas, dan batu pertama, sebenarnya tak dapat rusak.

Di sini saya tidak akan menyinggung pembicaraan tentang penyalahgunaan pembalseman yang terjadi kemudian. Saya harus berkepentingan dengan pertanyaan: Siapakah gerangan yang memasukkan gagasan tentang kelahiran kembali badaniah ini ke dalam benak orang-orang penyembah berhala ini? Dan dari mana datangnya gagasan yang berani ini yakni bahwa sel-sel dari badan seseorang harus diawetkan, sehingga, jika mayatnya disimpan di dalam tempat yang ditutup sangat rapat dapat dibangunkan kembali untuk mematuhi kehidupan baru, beribu-ribu tahun kemudian?

Selama ini masalah pembangunan kembali yang misterius ini hanya baru ditinjau dari segi keagamaan saja. Tetapi bagaimana halnya dengan Firaun yang kita anggap lebih banyak mengetahui tentang sifat dan kebiasaan para “dewa” dari pada kawula-kawula negaranya, apakah dia juga mempunyai gagasan-gagasan gila ini? “Aku harus membuat pekuburan bagi diriku sendiri, yang tak dapat rusak selama jutaan tahun dan dapat dilihat orang jauh dari seberang negeri. Para dewa berjanji akan datang kembali dan akan membangunkan daku, untuk memulihkan daku hidup kembali”.

Apa yang harus kita katakan tentang itu dalam abad ruang angkasa ini? Akhli pengetahuan alam dan astronomi Robert C.W. Ettinger, dalam bukunya berjudul “Prospek dari Keabadian”, terbitan tahun 1965; menyarankan suatu cara untuk membekukan badan kita sedemikian rupa sehingga sel-selnya dilihat dari segi biologi dan medis masih tetap hidup, tetapi kegiatannya terhambat satu milyar kali. Gagasan ini di masa sekarang masih utopis, tetapi kenyataannya klinik besar sekarang mempunyai “bank tulang” yang mengawetkan tulang manusia dalam keadaan sangat dingin yang membekukan, sehingga selselnya tetap hidup selama bertahun-tahun dan pada waktunya nanti dapat digunakan kembali. Darah segar ini pun sudah diperaktekan di seluruh dunia sekarang dapat disimpan untuk waktu yang tak terbatas pada suhu 196 C di bawah nol, sedangkan sel-sel hidup dapat disimpan untuk waktu yang hampir tak terbatas pada suhu dari nitrogen cair. Apakah Firaun juga mempunyai gagasan yang fantastis, yang segera direalisasikan dalam praktek?

Yang berikut ini anda harus membacanya dua kali untuk memahami benar implikasi yang fantastis dari penelitian ilmiah sebagai berikut. Walau pun bulan Maret 1963, para biologis dari University of Oklahoma memastikan bahwa sel-sel kulit dari seorang putera Mesir yang. bernama Mene dapat hidup, sedangkan ia telah meninggal dunia beberapa ribu tahun yang lalu.

Beberapa penemuan di berbagai tempat yang ada muminya, mummi itu telah diawetkan demikian sempurnanya dan utuh, sehingga kelihatannya seperti hidup. Mummi glasier peninggalan orang-orang Inca sudah bertahan berabad-abad dan secara teori mereka mampu untuk hidup kembali. Utopi?

Dalam musim panas tahun 1965, televisi Rusia memperlihatkan dua ekor anjing yang telah dibekukan selama seminggu. Pada hari ketujuh anjing-anjing itu di “cairkan” kembali dan sekonyong-konyong hidup kembali seperti sediakala.

Orang Amerika (ini bukan rahasia) sedang memikirkan dengan serius suatu bagian dari program ruang angkasanya, yakni bagaimana membekukan para astronot yang akan datang untuk perjalanan mereka yang panjang sekali ke bintang-bintang yang jauh.

Dr. Eltinger yang sering mencek masa kini dan meramalkan hari depan di mana orang tidak lagi akan dapat dimakan api atau cacing. Badan manusia akan dibekukan dalam kuburan yang sangat dingin atau bunker-bunker pembeku, sambil menanti kemajuan di bidang kedokteran yang dapat menghilangkan sebab-sebab dari kematian mereka dan kemudian menghidupkan mereka ke dalam kehidupan baru. Orang dapat memahami impian yang mengerikan tentang sepasukan tentara yang dibekukan, dan kemudian akan “dicairkan” kembali bila perlu, terutama dalam keadaan perang; suatu gagasan yang benar-benar menakutkan.

Tetapi apa hubungannya mummi itu dengan teori kita tentang wisatawan-wisatawan ruang angkasa di masa silam itu? Apakah saya dengan tergesa-gesa sedang menggali bukti-bukti? Saya bertanya: Bagaimana orangorang purbakala mengetahui bahwa sel-sel badan tetap hidup kemudian mengendur semilyar kali setelah mengalami pengerjaan tertentu? Dan darimana asalnya gagasan tentang keabadian dan bagaimana orangorang mendapatkan konsepsi tentang kebangkitan kembali badaniah?

Kebanyakan orang purbakala mengetahui teknik permummian; orang kaya benar-benar mempraktekkannya. Di sini saya tidak mempersoalkan fakta yang dapat diperlihatkan ini melainkan mencari jawaban atas pertanyaan, dari mana asalnya gagasan tentang bangun kembali atau hidup kembali.

Apakah gagasan itu timbul pada beberapa raja atau putra mahkota bangsa pengembara hanya semata-mata secara kebetulan saja, atau karena ada beberapa penduduk kaya yang melihat para “ dewa” merawat mayat dengan proses yang sulit kemudian menyimpannya dalam peti mayat yang terbuat dari batu yang tahan bom? Apakah ada beberapa wisatawan ruang angkasa mengajarkan kepada seorang pangeran yang cerdas dan berdarah raja, bagaimana mayat dapat di bangunkan kembalise telah mendapat perawatan khusus?

Spekulasi ini mernerlukan konfirmasi dari sumber-sumber kontemporer. Dalam beberapa ratus tahun mendatang umat manusia akan menguasai penerbangan ruang angkasa yang sekarang masih di anggap tak masuk akal. Biro-biro keparawisataan akan menawarkan tour ke planet-planet dengan tanggal pemberangkatan dan tanggal kembali yang tepat dalam brosur-brosurnya.

Jelaslah bahwa persyaratan bagi penguasaan ini ialah semua cabang ilmu pengetahuan harus mengikuti perkembangan ruang anskasa. Elektronika dan sibernetika saja tidak cukup. Kedokteran dan biologi akan memberikan bantuannya dengan jalan menemukan suatu cara untuk memperpanjang fungsi-fungsi vital dari badan manusia. Bagian ini dari penelitian ruang angkasa sekarang sedang giat-giatnya bekerja.

Di sini kita harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah para angkasawan purbakala sudah mengetahui bahwa kita harus tumbuh kembali dari permulaan lagi? Apakah para cendekiawan purbakala telah mengetahui caracara pengawetan badan manusia supaya dibangkitkan kembali setelah ribuan tahun kemudian? Atau barangkali ada beberapa “dewa “ yang cerdas, menaruh perhatian pada “pengawetan” sekurang-kurangnya satu sosok mayat dengan maksud supaya kelak kemudian hari dapat dihidupkan kembali untuk ditanyai tentang sejarah generasinya ? Mungkinlah interogasi semacam itu yang dilakukan oleh para dewa sudah pernah terjadi?

Dalam perjalanan waktu berabad-abad, mummifikasi yang semula adalah suatu hal yang suci, lama kelamaan akan menjadi mode. Sekonyong konyong setiap orang ingin dihidupkan kembali. Sekonyong-konyong setiap orang menduga bahwa ia dapat memasuki kehidupan baru selama ia masih mengikuti cara-cara nenek moyangnya.

Para pendeta tinggi yang juga mempunyai pengetahun tentang kebangkitan kembali banyak mempengaruhi cara peribadatan ini, karena kelom poknya memanfaatkan cara ini dengan baik. Saya telah menyebut kemustahilan jasmaniah dan usia para raja Sumeria, dan telah menyebut beberapa data dari Injil. Telah saya pertanyakan pula, apakah tidak mungkin bahwa raja-raja ini adalah wisatawan ruang angkasa yang telah memperpanjang jenjang hidupnya melalui efek pergeseran waktu pada penerbangan antar bintang yang kecepatannya hanya sedikit di bawah kecepatan cahaya.

Apakah kita barangkali sedang mendapat petunjuk ke dalam zaman orang-orang yang disebut dalam naskah, kalau kita mengasumsikan bahwa mereka itu telah dibalsem atau dibekukan ?

Kalau kita ikuti teori ini, maka para wisatawan ruang angkasa yang tak dikenal itu mungkin adalah orang-orang terkemuka purbakala yang dibekukan ditidurkan seperti dalam dongeng, kemudian dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, “dicairkan kembali, kemudian bercakap-cakap dalam kunjungan mereka berikutnya. Pada tiap akhir kunjungannya, para pendeta tinggi yang diangkat oleh para pendeta wisatawan ruang angkasa ditugaskan untuk menyiapkan mayat yang akan diawetkan dan disimpan dalam kuilkuil besar sampai para “dewa” itu datang kembali.

Tak mungkin? Menggelikan? Justru kebanyakan manusia yang merasa dirinya terikat oleh hukum-hukum alam itu, yang paling bodohlah yang menentang teori ini. Bukankah alam sendiri yang suka mempertontonkan contoh-contoh yang bagus sekali tentang “tidur di musim dingin” dan kebangkitan kembali ini ?

Ada beberapa jenis ikan yang setelah dibekukan dan kemudian dimasukkan ke dalam suhu yang sedang, dapat hidup kembali dan berenang lagi dalam air. Bunga-bunga dan tempayak bukan hanya suka tidur di musim dingin, melainkan mereka dapat muncul kembali dengan segar bugar dalam warna dan bungkus yang baru.

Biarlah saya menjadi penganjur terkutuk. Apakah orang-orang Mesir belajar pembalseman mayat itu dari alam? Kalau memang demikian adanya, maka harus ada cara pemujaan khas bagi kupu-kupu atau kembang, atau sekurang-kurangnya ada tanda-tanda dari cara pemujaan demikian. Tetapi mayatnya tidak ada. Pusarapusara di bawah tanah memang berisi peti-peti batu besar berisi binatang-binatang yang dibalsem. Tetapi sekalipun diketahui keadaan cuaca atau iklimnya, orang-orang Mesir itu tak dapat meniru tidur musim dingin dari binatang.

Lima mil dari Helwan terdapat lebih 5000 pusara dari berbagai ukuran yang semuanya berasal dari zaman dinasti pertama dan kedua. Pusara-pusara ini menunjukkan bahwa mumifikasi telah berusia 6.000 tahun lebih. Dalam tahun 1953 Profesor Emery menemukan sebuah pusara besar dalam pekuburan yang sudah tidak terpakai lagi di Sakkare Utara. Pusara ini dihubungkan dengan pikiran dari dinasti pertama. Terpisah dari pusara utama terdapat lagi 72 pusara lainnya, diatur dalam tiga barisan. Dalam pusara-pusara ini dibaringkan mayat-mayat para pelayan yang ingin menyertai raja-rajanya dalam dunia baru. Tidak terdapat tanda-tanda bekas penganiayaan pada mayat 64 orang pemuda dan 7 orang pemudi ini. Mengapa ke 72 orang ini mau dikurung dalam ruangan ini sampai mati ?

Kepercayaan akan kehidupan di balik kuburlah yang dapat memberi penjelasan tentang phenomena ini. Di samping emas dan batu permata, dalam pusara para Firaun itu terdapat pula persediaan jagung, minyak nabati, rempah-rempah; yang jelas dimaksudkan untuk persediaan penghidupan yang akan datang. Selain oleh para pencuri kuburan, pusara-pusara itu pernah pula dibuka oleh firaun-firaun. Para firaun ini menemukan persediaan pangan bagi nenek moyangnya itu dalam keadaan masih baik dan utuh. Dengan perkataan lain, persediaan pangan itu tidak dimakan oleh mumi dan tidak pula dibawa pindah ke dunia lain. Dan jika pusara ini akan ditutup kembali; persedian pangan segar dimasukkan ke dalam ruang di bawah tanah yang aman terkunci, dan disegel supaya tidak dicuri orang. Jelas sekali bahwa orang orang Mesir percaya akan kebangkitan kembali dalam waktu mendatang yang jauh, bukan kebangkitan kembali yang segera dalam waktu dekat ini.

Pada bulan Juni tahun 1954, juga di Sakkara telah ditemukan sebuah pusara yang masih utuh, belum dirampok orang. Ini terbukti dari adanya peti yang berisi emas dan batu permata masih utuh dalam ruang pekuburan. Peti batu berisi mumi itu ditutup dengan tutup yang bisa digeser, bukan dengan tutup yang biasanya dapat di angkat. Pada tanggal 6 Juli, Dr. Gonein membuka peti batu itu dengan segala upacara. Pusara itu ternyata kosong. Sama sekali kosong tanpa mumi. Apakah muminya pindah meninggalkan segala perhiasannya?

Rodenko seorang Rusia, menemukan kuburan dari Kurgan V, lima puluh mil dari perbatasan Mongolia Luar. Kuburan ini berbentuk bukit batu yang di dalamnya diperhalus dengan kayu. Seluruh ruang pekuburannya dibungkus oleh lapisan es abadi, sehingga isi dari pekuburan itu ada dalam pengawetan dengan jalan pembekuan. Satu di antara ruang-ruang pekuburan itu berisi mayat seorang pria dan seorang wanita yang kedua-duanya telah dibalsem. Kedua-duanya dibekali persediaan yang mungkin akan mereka butuhkan dalam kehidupan yang akan datang; seperti makanan dalam pinggan, pakaian, batu permata, dan alat-alat musik. Segala sesuatunya beku dan dalam keadaan pengawetan yang sempurna sekali. Demikian juga keadaan mumimumi yang telanjang bulat. Dalam salah satu ruang pekuburan, para sarjana menemukan suatu persegi panjang berisi 4 baris yang masing-masing terdiri dari 6 bujur sangkar. Dalam tiap bujur sangkar ini terdapat lukisan. Keseluruhan persegi panjang ini merupakan suatu tiruan dari permadani batu yang ada di Istana Asyiria di Niniveh.

Arca-arca aneh yang menyerupai Sphinx dengan tanduk yang rumit di atas kepalanya dan sayap di punggungnya dapat dilihat dengan jelas. Posisi arca-arca ini seperti yang akan terbang. Tetapi motivasi untuk kehidupan rohaniah berdua tak mungkin dapat didasarkan kepada penemuan-penemuan di Mongolia itu. Cara pembekuan yang dipergunakan di sana untuk itulah pekuburan ini sebelah dalamnya dilapisi kayu, adalah terlalu banyak di dunia ini dan nyata sekali di maksudkan untuk keperluan-keperluan yang berkaitan dengan bumi.

Mengapa orang-orang purbakala itu menduga bahwa mayat yang diproses secara ini dapat mencapai suatu keadaan yang memungkinkan pembangkitan kembali? Ini tetap merupakan suatu teka teki, walaupun hanya untuk sementara.

Di kampung Wu Chan di negeri Cina terdapat sebuah pusara yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 45 x 39 kaki. Di dalamnya terdapat kerangka tulang dari 17 lelaki dan 24 perempuan. Tidak seorangpun di antaranya menunjukkan tanda-tanda bekas kekerasan.

Ada pusara gletsier di Andes, ada pusara es di Liberia, ada pusara perorangan maupun kelompok di Cina, Sumeria dan Mesir. Mumi-mumi telah ditemukan di Utara maupun di Afrika Selatan. Semua mayat itu dibekali perbekalan untuk kehidupan baru. Semua pusara telah dibangun dan dibuat demikian kokoh sehingga dapat bertahan ribuan tahun.

Apakah semua ini hanya kebetulan belaka? Apakah semua ini hanya kesukaran atau ulah aneh aneh dari nenek moyang kita? Apakah memang ada janji di zaman purbakala akan adanya perkembalian badaniah yang tidak kita ketahui? Siapakah yang membuat janji itu?

Beberapa pusara yang sudah berumur 10.000 tahun telah digali di Jericho. Di dalamnya ditemukan sejumlah model tengkorak yang sudah berumur 8.000 tahun. Model-model itu dibuat dari batu kapur. Inipun mengherankan, karena orang-orang dari zaman itu belum mengenal teknik pembuatan tembikar. Di bagian lain dari Jericho di temukan rumah berderet-deret. Dinding-dinding rumah di bagian atasnya melengkung ke dalam seperti kubah. Pemeriksaan dengan isotop carbon C 14 menunjukkan, bahwa rumah-rumah itu sudah berumur 10.400 tahun. Kita ketahui bahwa isotop carbon C 14 dapat digunakan untuk menentukan umur rumah-rumah itu sama benar dengan yang telah disampaikan oleh para pendeta Mesir kepada kita. Mereka mengatakan bahwa nenek moyang mereka yang juga pendeta, telah dibebas-tugaskan 11.000 tahun yang lalu. Apakah ini juga hanya kebetulan saja ?

Batu-batuan pra sejarah di Lussac, Perancis merupakan penemuan yang istimewa. Batu-batu itu menunjukkan gambar dari pria-pria yang berpakaian modern; bertopi, memakai jaket, dan bercelana pendek. Abbe Breuil mengatakan bahwa gambar-gambar itu adalah otentik. Pernyataannya ini menyebabkan pra sejarah menjadi membingungkan. Siapakah yang telah memahat batu-batu itu? Siapakah yang telah mengkhayal bahwa penghuni gua yang masih berbaju kulit binatang, dapat menggambar manusia dari abad ke duapuluh pada dinding?

Beberapa lukisan dari zaman batu yang betul betul hebat, telah ditemukan pula di Luscaux diPerancis Selatan dalam tahun 1940. Lukisan-lukisan itu begitu hidup dan masih utuh, bagaikan lukisan di zaman sekarang.

Dua pertanyaan segera timbul dalam benak kita. Bagaimana caranya menerangi dinding gua itu supaya para artis zaman batu itu dapat menyelesaikan tugasnya yang.sulit itu? Mengapa dinding-dinding itu harus dihias dengan lukisan-lukisan yang mengherankan itu ? Biarkanlah pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh mereka yang menganggap pertanyaan itu pertanyaan tolol. Jika penghuni gua dari zaman batu itu masih primitif dan setengah biadab, mereka tak akan mampu membuat lukisan-lukisan yang sangat mengherankan itu. Tetapi kalau mereka mampu, mengapa mereka tidak mampu membuat kubu-kubu untuk berteduh? Para pejabat terkemuka pun mengakui bahwa sudah sejak jutaan tahun yang lalu, binatang mampu membuat sarangnya sendiri untuk tempat berteduh. Tetapi pengakuan bahwa homo sapiens juga mempunyai kemampuan yang sama seperti sejak jutaan tahun pula, tidak cocok dengan hipotesa kerja kita.

Di padang pasir Gobi, jauh di bawah reruntuhan Khara Khota, Profesor Koslov menemukan pusara yang ditaksir berasal dari tahun 12.000 sebelum Masehi. Pusara itu tempatnya tidak jauh dari tempat vitrifikasi yang ajaib itu, yang hanya mungkin terjadi dengan panas yang sangat tinggi. Peti batunya berisi dua mayat pria kaya. Di atas peti batu itu terdapat suatu tanda lingkaran dibagi dua dengan sebuah garis vertikal. Di Pegunungan Subis di pantai barat Borneo terdapat suatu jaringan gua-gua yang di dalamnya dibuat seperti katedral. Di antara penemuan yang hebat ini terdapat pula hasil tenunan yang demikian halus dan indahnya, sehingga orang tak dapat membayangkan bahwa itu telah dibuat oleh orang-orang setengah biadab. Pertanyaan, pertanyaan, sekali lagi pertanyaan,...

Keraguan pertama dengan lihainya beralih bentuk menjadi teori arkeologi stereotype. Tetapi yang kita perlukan ialah pendobrakan semak belukar dari masa silam itu. Batu-batu penunjuk harus didirikan lagi, bila perlu harus ditetapkan sejumlah seri tanggal tertentu.

Boleh saya jelaskan di sini bahwa saya tidak meragukan sejarah dari 2000 tahun terakhir. Saya hanya berbicara khusus tentang sejarah purbakala yang jauh ke belakang, tentang kegelapan yang paling hitam; yang ingin saya terangi dengan jalan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru. Saya juga tidak dapat memberikan angka dan tanggal yang menunjukkan sejak kapan kunjungan para cendekiawan tak dikenal dari alam semesta dan kapan mulai mempengaruhi para cendekiawan muda. Tetapi saya berani meragukan cara sekarang untuk menentukan tanggal yang ditetapkan kepada masa silam itu.

Saya ingin menyarankan supaya peristiwa yang sedang menjadi perhatian saya, yakni zaman Paleolithic Dini ditempatkan antara tahun 10.000 dan 40.000 sebelum masehi. Cara kita untuk menentukan tanggal yang ada sampai sekarang, termasuk di dalamnya C 14 yang memuaskan setiap orang itu, akan meninggalkan gap besar apabila kita harus berurusan dengan jangka waktu kurang dari 5000 tahun. Semakin tua yang harus kita teliti, radio carbon itu semakin tidak dapat di percaya. Bahkan para sarjana vang terkenalpun menganggap metoda C 14 itu sebagai gertakan belaka, karena kalau suatu substansi organis berumur antara 30.000 dan 50.000 tahun, umur sebenarnya dapat ditentukan berapa saja di antara kedua batas itu. Kritik-kritik ini hanya dapat diterima dalam batas-batas tertentu; karena meskipun begitu cara kedua yang sesuai dengan C 14 dan didasarkan kepada alat pengukur paling mutakhir tak ayal lagi sangat diperlukan.

Bukan pula kesalahan kita, kalau buku-buku dan tradisi-tradisi kuno dari sejarah manusia, memperlihatkan begitu banyak hal-hal yang menggelikan.Tetapi adalah mutlak kesalahan kita, apabila kita mengetahui semua itu, tetapi tidak memperhatikannya dan menolak untuk menganggapnya serius. Manusia menghadapi masa depan yang hebat, masa depan yang akan melebihi kehebatan masa silamnya. Kita membutuhkan penelitian ruang angkasa, penelitian masa depan, dan keberanian untuk menangani proyek-proyek yang sekarang kelihatannya mustahil. Misalnya, proyek penelitian bersama mengenai masa silam yang mendatangkan kesankesan berharga tentang masa mendatang. Kesan-kesan yang kemudian akan dibuktikan dan akan menerangi sejarah umat manusia demi keuntungan generasi-generasi penerus.
(Erich von Däniken)

comment 0 comments:

Posting Komentar

 
© Dewa Krisna | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger