Disinikah Kita..?

Selama kita tidak bercakap tentang “kita”, maka segalanya akan baik-baik saja. Benarkah begitu?

Aku kesepian. Di balik jendela kaca yang menyimpan waktu dari jaman yang entah. Menyakitkan untuk dipandang. Sakit yang familiar. Seperti juga sengatan dihatiku ketika berpisah.

Aku tidak menangis. Tidak berteriak. Karena bukankah kita memang tidak pernah bicara tentang cinta ketika memutuskan untuk bersama?
Bukankah seperti selalu, seperti selayaknya, kita hanya mengada?

Tanpa pernah mempertanyakan rasa macam apa yang selama ini kita genggam dalam jari-jemari kita yang bertaut?

Sehingga disinilah aku, setelah perpisahan itu. Di detik yang merapuh ini.
Sendiri.


Dulu, kita selalu membicarakan hari ini: obrolan gombal yang tak pernah orang lain fikirkan.

Bukan percakapan yang penting memang, tapi justru yang remeh temeh itulah yang membuat kita tertawa. Lunglai. Dan bertahan bersama. Bersama-sama melewati kelokan kehidupan dan sekujur jalan penuh luka.

Seharusnya kamu ada disini. Bersamaku.
Kita akan berbicara keras-keras dan terbahak pada hal-hal yang kelucuannya hanya bisa dimengerti kita berdua. Orang-orang akan menoleh kearah kita: sedikit kesal, sedikit iri. Berharap mereka bisa memiliki ketidakpedulian kita ini separuhnya saja. Seperti pasangan yang tengah kasmaran.

Seperti.

Dan kita selalu terhenti sampai sejauh ini. Sejauh kata “seperti”.
Karena kita tidak pernah tahu. Aku tidak pernah tahu. Karena selama kita tidak bercakap tentang “kita”, maka segalanya akan baik-baik saja.
Ini seperti sebuah kesepakatan tidak tertulis, yang seharusnya tidak kita langgar. Dan semua mimpi buruk ini, kesendirian kita, perpisahan pagi itu adalah semacam kutukan yang jatuh diatasku.

Karena aku bertanya tentang kita.

Are we together?

Dan kamu membeku seperti mendengar sesuatu yang tabu, yang tidak seharusnya.
Mengapa?
Mengapa begitu?
Mengapa kita tidak bisa memberi nama terhadap rasa yang kita punya dan tetap baik-baik saja?

Hidupku telah terlalu terbiasa tertuju kepadamu. Ketika kamu tidak disini, aku kehilangan arah, aku tersesat.

Detik-detik berlalu seperti hujan. Sebentar tapi nyaman. Atau nyaman tapi cuma sebentar.
Nyaman itu yang selalu kurasakan ketika bersama dirimu.

I miss us, and all the things we’ve accidentally missed…

Perempuanku

comment 0 comments:

Posting Komentar

 
© Dewa Krisna | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger