Malam tadi, aku bermimpi.
Dini Hari datang dengan secangkir teh panas di tangan, lalu duduk di
hadapanku. “Mari kita berbincang
tentang kebahagiaan,” katanya.
Aku terkejut, merasa tidak siap. “Mengapa kebahagiaan?” tanyaku sambil
menerima secangkir teh yang disodorkan Dini Hari kepadaku.
“Entahlah,” Dini Hari mengangkat
bahu. “Hanya saja,
belakangan ini kamu nampak tidak bahagia…”
Aku menyesap tehku pelan-pelan, pikiranku tertuju pada sebuah jaman
ketika aku selalu bersicepat dengan waktu.
“ Apakah kamu mencari
kebahagiaan?” tanya Dini Hari.
“Ya,” aku mengangguk. “Tapi… mengapa dulu aku tidak
ingin mencarinya? Mengapa dulu aku menganggap kebahagiaan itu tidak terlalu
penting, sehingga aku tak perlu mengejarnya? ”
“Karena dulu kamu
memilikinya,” Dini Hari menjawab. “Jika kamu sudah memiliki
kebahagiaan itu di dalam dirimu, kamu tak perlu lagi susah-susah mencarinya.
Justru karena kamu sadar bahwa kamu sudah kehilangan kebahagiaan itu, maka kini
kamu mencarinya. Ingat, kamu sendiri yang pernah berkata: ‘kita tidak akan tahu betapa
berartinya sesuatu itu, hingga sesuatu itu direnggutkan dari kehidupan kita’. Sesuatu itu bisa berupa
kebahagiaan, kan?”
“Jadi apa yang harus
aku lakukan?” Kutatap Dini Hari tepat di
matanya.
“Ini saatnya bagimu
untuk memilih. Untuk kembali berbahagia.”
Aku menghela napas panjang. Aku tahu bahwa hidup penuh dengan
pilihan-pilihan, namun tetap saja, aku selalu kesulitan ketika dihadapkan
padanya.
“Aku ingin
mengingatkanmu pada sesuatu,” ujar Dini Hari.
“Apa?” tanyaku.
Dini Hari tersenyum. “Ada seseorang yang
kukenal, yang pernah mengatakan kepadaku, bahwa ia ingin mengejar
kebahagiaannya sendiri terlebih dahulu, kemudian baru membahagiakan orang lain.
Karena seseorang tidak akan pernah bisa membagi apa-apa yang tidak ia miliki.
Kita tidak akan bisa membahagiakan orang lain jika kita sendiri tidak bahagia.”
“Aku hanya ingin
bahagia,” ujarku, sambil merasakan kehangatan bagian
luar cangkir tehku dengan kedua telapak tangan.
“Kita semua menginginkannya,” Dini Hari
mengangguk. “Tetapi hanya mereka
yang berani memilih kebahagiaanlah yang berhak mendapatkannya.”
◌ Seandainya saja kita
punya cara yang sama dalam berbahagia
Continue reading Euneirophrenia Dini Hari