Tampilkan postingan dengan label Perempuanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuanku. Tampilkan semua postingan

13 Desember 2025

,

Ellipsism

Ruang dalamnya terang oleh pendar cahaya bintang dan dapurnya hangat oleh sinar matahari. Kelak, aku mau rumah ini jadi sebuah album tempat setiap lembaran kenangan tentang dirimu kusimpan.

Gerimis jatuh waktu itu. Airnya meleleh di jendela. Membuatnya berembun. Dan dengan jarimu yang lentik, kamu melukis sebuah gambar hati yang retak di jendela kaca itu. Dan hatiku pun ikut tersayat. Dan saat itulah kita bakal sama-sama meranggas di malam-malam musim panas. Berjuang sendiri-sendiri meringkus sunyi. Lantas ke manakah kelak kita akan pulang? Adakah harapan punya rumah?

 

Semua ini seharusnya terasa menghangatkan. Menenangkan. Tetapi sebaliknya, semua ini justru membuatku melankolia. Karena seharusnya, ada kamu di sini. Kenangan kita berdua ternyata terlalu sedih ketika hanya dijalani seorang diri.

 

Tentu, saat itu, kita tidak tahu bahwa kita akan berpisah pada suatu pagi yang kelabu. Karena ketika tengah bersamamu, perpisahan terdengar seperti sebuah konsep yang sangat jauh. Begitu jauh sehingga kita tak akan tersentuh.

 

Berdua, bersamamu, sepanjang waktu, tentu saja anugerah terindah hidupku. Seperti kirana bagi lembayung. Rinai bagi musim panas yang lengas. Arunika yang menghiasi jumantara.

 

Bukan. Bukan itu yang terpenting dalam hidup ini. Kamu jauh lebih berharga dari apa pun. Dan layak diperjuangkan dengan cara apa pun. Kamu hanya harus lebih menahan diri. Masa depan toh menunggu sabar. Kelak, ketika musim gugur sudah berlalu, dan musim semi dalam hidup kita menumbuhkan kembang-kembang harapan, aku pasti akan duduk di sebelahmu lagi. Aku akan bercerita tentang jalan panjang yang baru saja kulalui menuju rumah. Menuju pulang. Kembali ke hatimu.

 

 

Di depan hamparan sawah, kamu membisikkan sebuah janji. Bahwa kamu akan membagi impianmu ini bersamaku. Bahwa kita akan mengabarkan kepada dunia mengenai perempuan- perempuan pelukis ini. Mereka yang melukis dengan hati dari segenap penjuru negeri.

 

Tetapi ternyata masa depan memilih untuk melukiskan dirimu, bersamanya. Tertawa di atas impian kita berdua. Aku cukup membukanya satu halaman saja untuk melihat semua: feature yang kau tulis, gambar-gambar para perempuan pelukis dan puisimu yang tak pernah selesai tentang kita.

 

Sekarang, tidak ada lagi ‘kita’, bahkan untuk sekerat impian lama yang sejak mula kita bangun berdua. Ini impianmu. Hanya kamu. Dan ada dia di sampingmu, yang berbagi malam ini bersamamu.

 

Aku tidak tahu apakah aku harus merasa bahagia untukmu; atau merasa terluka untuk masa lalu. Pagi ini, ketika hujan menderas, aku mengenang lagi semua tentangmu. Perihal perpisahan yang absurd itu. Ihwal “kita” yang tak pernah final. Tentang cintaku kepadamu yang selalu kau gugat. Tentang hatimu yang selalu meragukan ketulusanku.

 

Kepingan-kepingan masa lalu bersamamu itu kuhadirkan kembali sebagai menu sarapan pagi, menemani secangkir kopi hitam yang kubuat. Kali ini tanpa cangkir pasangannya. Dan rasa sakit itu kembali, seperti gelombang hitam yang menggulungku dan hendak menyeretku tenggelam. 

 

Bukankah cinta seharusnya membebaskan, dan bukan membebani? Ataukah utopia mengenai cinta yang membebaskan itu hanya ada dalam imajiku sendiri?

 

Seandainya kita tidak perlu menyembunyikan rasa yang kita punya, dan cukup berani untuk menamainya cinta, mungkin akan ada lebih banyak kenangan yang bisa kita simpan.

 

 

Always miss you Stella….

Continue reading Ellipsism

09 Mei 2022

,

Rose and Midnight

 Dinihari. Dan aku belum juga memejamkan mata. Kenangan tentang dirimu membuat hatiku semak. Menjadikanku selalu terjaga. Seperti yang lalu-lalu.

 

Sempurna. Hujan, sepi, dan secangkir kopi sepertinya bersekongkol melemparkan diriku ke masa lalu. Pada waktu kita masih sering berdua di balkon itu. Malam-malam berdua saja. Dengan tawamu yang berderai-derai. Angin yang menerbangkan rambut hitammu yang panjang dan wangi ke mukaku, seperti tanganmu yang kerap membelai wajahku

 

Kopi tak pernah membuat kita bosan pada kehidupan yang menekuk pinggang ini. Kita bahkan selalu punya cara untuk menikmatinya, dengan riang maupun getir. Sesuatu yang mungkin remeh temeh bagi orang lain. Tapi, dengan dirimu di bangku depanku, yang remeh-temeh itu menjadi sesuatu yang membuat semuanya lebih hidup. Sesuatu yang menjadikan dirimu selalu berarti, dan lebih berarti.

 

Tubuhmu ibarat sebuah pentas. Tempat sebuah pertunjukan dipertontonkan. Kamu tarian. Sendratari. Drama. Puisi yang dibacakan oleh para penyair setiap malam.

 

Kita barangkali sebuah angan yang absurd. Tentang unifikasi sebuah relasi yang menggetarkan, sekaligus memedihkan.

 

 

Tapi ternyata aku kemudian mengerti bahwa kita adalah gagasan yang rumit. Antara ada dan tiada. Pernah ada masanya kau dan aku satu. Tapi tak menjadi kita. Kita mungkin seperti matahari dan hujan. Bisa melahirkan pelangi, tapi tak selalu di ranjang yang sama.

 

Takdir mungkin telah dinujumkan oleh jari-jarimu di hamparan jendela kaca yang berembun itu. Aku tahu pada saatnya nanti hati kita benar-benar remuk.

 

Mungkin jawabanmu itu juga sebuah pertanda. Bahwa kita tidak akan bertahan selamanya. Bahwa perpisahan itu tidak sejauh yang kita kira. Mungkin kita memang tidak membutuhkan selamanya. Sebentar yang bermakna itu bisa jauh lebih berharga. Setiap kenangan kita yang diabadikan lewat lensa mata. Dan kita bisa memutar ulang setiap adegan yang pernah kita lewati bersama hingga bosan.

 

Ah, kita memang tidak akan pernah tahu. Mungkin selamanya, mungkin sebentar, mungkin hanya hari ini saja. Tetapi bukankah, seperti sering kau katakan, selamanya tak selalu berakhir bahagia. Sebentar bisa menitipkan makna yang masih terasa bahkan setelah beberapa lama. Dan hari ini saja bisa menjelma kekal dalam ingatan yang selalu dapat kita putar ulang.

 

Ketika kau tahu sulitnya melupakan sebuah kesalahan meskipun kata maaf telah diucapkan, janganlah meninggalkan ingatan pedih pada kenangan.

 

Tetapi, apa boleh buat. Satu episode dalam hidup kita sudah lewat. Terangkum dalam satu masa yang terasa seperti hanya sekejap mata. Maka, yang bisa kulakukan hanyalah mengucapkan satu harapan untukmu.

 

Melangkahlah pada sinar mentari esok pagi dengan hati yang utuh dan bukan cuma separuh. Maafkan aku atas semua luka yang telah membuatmu menangis di malam hari. 

 

💗 Mungkin ada banyak bunga dalam hidup seseorang… tapi hanya satu mawar.

Rose are Red, Midnight are Blue

Continue reading Rose and Midnight