
Aku memang tak menoleh waktu itu. Karena aku tahu mata
hatiku selalu di belakang langkahmu. Mengikuti dengan takzim ke mana pun kau
pergi.
Seandainya
kamu lebih sabar dan melihat lebih jernih, mungkin kamu bakal tahu seberapa
dalam luka jiwa yang kau sayat dengan prasangkamu. Luka hati dibawa mati. Luka
jiwa, kubawa ke mana?
Dan
seandainya saja...